Tuesday, May 15, 2007

MASIH JAUH DARI SWASEMBADA GULA

JURNAL NASIONAL | Rabu, 21 Maret 2007

KEBUTUHAN gula Nasional pada 2007 diperkirakan sekitar 4,2 juta ton. Dari kebutuhan tersebut 2,66 juta dikonsumsi langsung dan 1,5 juta untuk industri makanan dan minuman. Dengan realisasi produksi tersebut diproyeksikan Indonesia baru mencapai swasembada gula pada 2009.

Pemerhati pergulaan Purwono mengatakan, peningkatan kebutuhan gula setiap tahun diperkirakan 50 ribu ton. Pada 2009 diproyeksikan konsumsi gula mencapai 2,76 juta ton. Untuk memenuhi kekurangan tersebut, pemerintah kemungkinan akan mengimpor gula dari negara tetangga.

Berdasarkan Roadmap Swasembada Gula pada 2006 hingga 2009, produksi gula diproyeksikan meningkat. Pada 2006 misalnya, produksi gula mencapai 2,43 juta ton. Selanjutnya pada 2007 diproyeksikan bertambah sebanyak 2,62 juta ton, pada 2008 meningkat menjadi 2,75 juta ton, dan pada 2009 sebanyak 2,85 juta ton.

Menurut dia, proyeksi tersebut nyaris menyamai prestasi produksi gula di Indonesia pada zaman Belanda, dengan luas areal sekitar 350 ribu hektare sementara gula yang diproduksi mencapai 2,9 juta ton. "Pada saat itu tebu ditanam di Jawa dengan sistem reynoso di lahan sawah dan jumlah pabrik gula masih utuh," katanya kepada Jurnal Nasional, Senin (19/3).

Dia menjelaskan, jika proyeksi produksi gula tersebut benar, maka pada tahun 2009 kebutuhan gula konsumsi akan dapat dipenuhi dari produksi gula tebu dalam negeri.

"Realisasi produksi gula dari tebu tahun 2005 sebesar 2,24 juta ton yang terdiri atas produksi di Jawa dan luar Jawa. Produksi pada 2006 mencapai 2,3 juta ton dengan proporsi hasil antara Jawa dan luar Jawa relatif tetap," katanya.

Purwono yang juga dosen pada Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB), menambahkan kondisi pertanaman saat ini masih jauh dari baik. Rendemen gula di Jawa, berkisar 6,5-8 persen dengan rata-rata 6,5 persen dan tebu 80 ton per hektar.

Namun tantangan mencapai swasembada gula tersebut masih terhalang kondisi pabrik gula di Pulau Jawa. "Jam berhenti pabrik karena faktor internal sekitar 10 persen dari total jam giling. Kinerja pabrik gula rendah," ujarnya.

Rendahnya efisiensi energi pabrik gula, karena keadaan boiler, perpipaan belum diperbaiki. "Tanpa perbaikan atau penggantian dan peningkatan kapasitas giling, kinerja pabrik tidak akan dapat ditingkatkan," katanya.

Dia menambahkan, kerja keras semua pihak harus dilakukan agar tujuan swasembada dapat dicapai. Perbaikan di sisi tanaman pun perlu dilakukan sesuai standar.

No comments: